selamat berkunjung, semoga bermanfaat untuk anda...

Sabtu, 12 Mei 2012

Love KPOP


Daftar Aktor Korea Favoritku:
1.   Choi Siwon (18 VS 29)
2.   Kang Ji Hwan (Lie To Me)
3. Song Seung Hun (My Princess)
4.   Kim Hyun Joong (Playfull Kiss)
5.   Jung Il Woo (49 Days)
6.    Jung Yong Hwa (Heartstrings)
7.   Kim Bum (Boys Before Flower)
8.    Yun Joong Hoon (Vampire Prosecutor)

Daftar Aktris Korea Favoritku:
1.    Song Hye Kyo (Full House)
2.   Yoon Eun Hye (Lie To Me)
3.   Jung So Min/ Kim Yoon Ji (Playfull Kiss)
4.   Park Shin Hye (Heartstrings)
5.    Han Ga In (Witch Yoo Hee)

Daftar Penyanyi Wanita Favoritku:
1.    Song Ji Eun (Secret)
2.   Sunny  And  Choi Sooyung (Girls Generation/SnSD)
3.   J-Cera (CS Numbers)
4.   IU
5.    Davichi


Daftar Penyanyi Pria Favoritku:
1.    Brian Joo
2.   Kim Hyun Joong
3.   JYJ
4.   Se7en
5. Jay Park


Daftar Boyband Korea Favoritku:
1.    Super Junior
2.   Cn Blue
3.   Boyfriend
4.   Infinite
5.    Beast
6.   MblaQ
7.    2AM

Daftar Girlband Korea Favoritku:
1.    Girls Generation (So Nyuh Shi  Dae)
2.   Secret
3.   Miss A
4.   Tara

Minggu, 30 Oktober 2011

“Zoladiares.blogspot.com”



            Hmm, kalau diingat-ingat ya, pertama kali aku liat blog zola ini, itu pas aku lagi senang-senangnya sama drama playfull kiss, sumpeh deh, rasanya buka blog zola itu melebihi jatah orang minum obat, hehehehe... (bisa diblg overdosis nih)
            Gini ni critanya bisa ktemu sma blog zola, aku dkenalin sma oom google, pas aku ngetik sinopsis playfull kiss, eh langsung dah muncul Zoladiares.blogspot.com . Trus blog zola itu malah yg kasih kabar keaku kalau ada playfull kiss spesial episode, huaaa... TOP BGT lah zola ni... ^.^
            Habis aku mampir disinopsis playfull kiss zola, aq tanya lagi sma oom google drama korea terbaru, eh diblg sioom deh klau ada heartstrings yang lagi main di SBS, habis itu aku buka blog zola lagi, eh ternyata ketemu sma bacaan Heartstrings.. ya udah deh diminum lagi obat zoladiaresnya, (hehehee....), aku sampai sering message zola lwat chit chat  bilang gini ”zola ditunggu ya episode 10 heartstringnya..,  zola kapan nih hearstrings episode 11 nya”, disini nih aku lebih gregetan nunggu episode2 heartstrings, soalnya aku ingat zola pernah buat lagi sibuk dengan kuliah, makanya posting2 heartstrings agak telat... (sempat sedih sih, tpi ga pernah nyerah bwt cek and ricek blog zola, hehehe)
            Kenapa aku suka sama blog zola???
 Karena sinopsis yang zola bwt itu keren abiss, bisa diblg sudah merangkum cerita-cerita keseluruhan dari setiap episode drama, ditambah lagi dengan keterangan gambar yg membuat pembaca seolah-olah lagi nonton. Trus menurutku tampilan blog zola itu simple dan punya ‘sesuatu’ (ala syahrini, hehehe.. korban nih gw) sehingga pembaca tidak bosan. Dan pernyataan zola yg bilang kalau buat sinopsis berdasarkan apa yang zola tonton itu keren, artinya zola itu punya ciri/sesuatu lagi deh, yg bedain blog zola dan blog-blog sinopsis lainnya,  trus zola slalu update lagi..  ^-^
            Terimakasih zola buat blog Zoladiares.blogspot.com nya...

          Semangat ya zola, untuk selalu berkarya buat sinopsis yang benar-benar berbeda dan keren. Tambah semangat juga buat kuliahnya... goMawo :)

Minggu, 10 Juli 2011

Perubahan Iklim Dan Peran Hutan Indonesia (resume kuliah umum)


Lahirnya revolusi industri di inggris memacu pemakaian bahan bakar fosil yang mengakibatkan kenaikan suhu bumi sehingga memicu meningkatnya GRK (Gas Rumah Kaca). Gejala ini ditandai dengan naiknya permukaan rata – rata air laut, suhu global naik 0,7 0 C, musim yang tidak menentu (dalam hal ini musim kemarau dan musim hujan)  dan mencairnya es dikutub utara.
Menurut UNFCCC, perubahan iklim merupakan perubahan yang disebabkan oleh manusia baik langsung maupun tidak langsung yang merupakan komposisi atmosfer global. Dengan adanya perubahan iklim maka umat manusia akan sering mengalami kekeringan, kebanjiran, kekurangan pangan akibat gagalnya panen dan kehilangan mata pencaharian hal ini juga memicu hilangnya spesies mahluk hidup. Adanya mitigasi perubahan iklim diharapkan mampu mempertahankan kenaikan suhu bumi maksimum 20 C dan mitigasi ini juga akan berjalan seiring adanya aksi berupa mengurangi kebutuhan barang dan jasa, meningkatkan efisiensi penggunaan energi, penerapan teknologi rendah karbon dan penggunaan energi alternatif  non emisi 
          Indonesia sebagai negara yang memiliki hutan hujan tropis terbesar ketiga didunia, memiliki peranan yang sangat penting dalam menyelamatkan perubahan iklim. Indonesia sendiri telah ambil bagian dalam KTT 1992 tentang  konvensi  perubahan iklim, kemudian dalam COP tahun 2007 (konferensi para pihak) dimana adanya kesepakatan mengenai kerja sama jangka panjang masyarakat dunia dalam menyelamatkan perubahan iklim.
            Hutan merupakan penyangga kehidupan manusia, dimana hutan mampu menyerap karbon dari pemakaian manusia dan menghasilkan oksigen yang dibutuhkan manusia dalam bernapas, juga mampu menyeimbangkan kesediaan air bagi manusia, sehingga peranan hutan amatlah besar dalam menyeimbangkan perubahan iklim, oleh karena itu, dengan adanya kenyataan saat ini dimana hutan dunia khususnya hutan tropis makin berkurang, bagaimana dapat menolong umat manusia dari kerusakan lingkungan yang lebih besar dimana saat ini hutan semakin sedikit tapi pemakaian terhadap bahan beremisi semakin besar.
            Dengan adanya kerangka hukum pengelolaan hutan terutama di Indonesia, diharapkan mampu memperbaiki persentase luas kawasan hutan yang dilindungi untuk tujuan konservasi sehingga mampu mengurangi laju kerusakan deforestrasi dan degradasi lahan. Luas kawasan hutan Indonesia menurut Badan Statistik (2008) sebesar 136,79  juta Ha, dengan komposisi hutan konservasi sekitar 20 %,  hutan produksi 57 % dan hutan lindung sebesar 23 %.
            Saat ini banyak negara berkembang dan negara maju yang membahas tentang perdagangan karbon (carbon trade), yang memicu perdebatan bagaimana cara menghitung besaran yang dikeluarkan terhadap penyerapan karbon oleh hutan negara – negara berkembang (umumnya hutan tropis) dengan laju emisi dari negara – negara maju. Hal ini tentunya dapat dijawab dengan penghitungan luas kawasan hutan dan inventarisasi tegakan – tegakan yang ada didalam hutan tersebut, saat ini saja sudah banyak penelitian – penelitian bidang kehutanan yang menghitung besaran serapan karbon dari jenis – jenis pohon hutan.
            Kemudian saat ini dikembangkan juga pemahaman tentang silvikultur, pengembangan bioteknologi, upaya konservasi dan penghitungan stok karbon dengan mengidentifikasi tipe hutan dan kaitannya dengan emisi, pengukuran reference emission level (REL), pengukuran resiko dan mekanisme distribusi manfaat. Hal ini semua senada dengan delapan kebijakan prioritas kehutanan yakni adanya Penunjukan dan pemantapan kawasan, Rehabilitasi lahan dan meningkatkan daya dukung DAS, Perlindungan hutan dan pengendalian kebakaran hutan, Konservasi keanekaragaman hayati, Revitalisasi pemanfaatan hutan dan industri kehutanan, Pemerdayaan masyarakat didalam dan sekitar hutan, Mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta Pemantapan kelembagaan kehutanan yang terangkum dalam rencana strategi kehutanan Indonesia 2010 - 2014 yang diharapkan dapat terlaksana dengan baik.

Selasa, 03 Mei 2011

Hama Ulat Kipat (Cricula trifenestrata Helf) (Lepidoptera : Saturniidae) Pada Tanaman Jambu Mete (Anacardium occidentale L)

PENDAHULUAN                      
Latar Belakang
            Tumbuhan tidak selamanya bisa hidup tanpa gangguan. Kadang tumbuhan mengalami gangguan oleh binatang atau organisme kecil (virus, bakteri, atau jamur). Hewan dapat disebut hama karena mereka mengganggu tumbuhan dengan memakannya. Belalang, kumbang, ulat, wereng, tikus, dan walang sangit merupakan beberapa contoh binatang yang sering menjadi hama tanaman (Susniahti dkk, 2005).
Hama adalah semua organisme atau agen biotik yang merusak tanaman dengan cara yang bertentangan dengan kepentingan manusia. Dalam arti yang luas bahwa hama adalah makhluk hidup yang mengurangi kualitas dan kuantitas beberapa sumber daya manusia yang berupa tanaman atau binatang yang dipelihara yang hasil dan seratnya dapat diambil untuk kepentingan manusia  (Hill, 1979).
            Manusia selalu menemui, berbagai kendala untuk bisa melindungi dini dari gangguan serangga. Manusia tidak pernah dapat mengalakannya. Serangga merupakan musuh yang serius selama hidup tanpa pernah manusia menyadarinya. Manusia yang akan menciptakan semua keinginannya perlu dipikirkan adanya mahluk perusak khususnya serangga dan mahluk hidup lainnya, yang akan menjadi rival beratnya dalam usaha memenuhi keinginan tersebut. Salah satu hama yang mengganggu tanaman adalah cricula fenestrata atau yang dikenal dengan nama ulat kipat yang umumnya  menyerang pohon jambu mete dan alpukat                (Sushniati dkk, 2005).
Sebagian besar jenis serangga dan semua jenis laba-laba di kebun jambu mete bermanfaat. Mengapa, karena dapat membunuh dan memakan hama, juga ada fungsi lain yang berguna, misalnya mengurai daun yang jatuh sehingga menjadi unsur hara. Karena itu, semua serangga / laba-laba yang berguna untuk manusia sebaiknya dilestarikan. Cara paling baik untuk melestarikannya, jangan menggunakan pestisida (racun kimia) bila belum diperlukan dan mengusahakan lingkungan hidupnya yang paling cocok/ konservasi  (Deptan, 2001).
Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui teknik pengendalian dan perlindungan tanaman Jambu Mete (Anacardium occidentale L) dari hama ulat kipat Cricula trifenestrata Helf.
Kegunaan Penulisan
1. Sebagai syarat untuk mengukuti praktikal test di Laboratorium Dasar Perlindungan Hutan Sub-Hama Departemen Hama Dan Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan.
2.  Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Biologi Tanaman
            Klasifikasi dari Jambu mete (Anacardium occidentale L) menurut Plantamor (2010) :
Kingdom         :Plantae
Divisi               :Magnoliophyta
 Kelas
              :Magnoliopsida
 Ordo               :Sapindales
 Famili
             :Anacardiaceae
Genus
              :Anacardium
Spesies            :Anacardium occidentale L
Jambu mete merupakan tanaman buah berupa pohon yang berasal dari Brasil Tenggara. Tanaman ini dibawa oleh pelaut Portugis ke India 425 tahun yang lalu, kemudian menyebar ke daerah tropis dan subtropis lainnya seperti Bahana, Senegal, Kenya, Madagaskar, Mozambik, Srilangka, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Di antara sekian banyak negara produsen, Brasil, Kenya, dan India merupakan negara pemasok utama jambu mete dunia. Jambu mete tersebar di seluruh Nusantara dengan nama berbeda - beda. Di Sumatera Barat disebut jambu erang / jambu monyet, di Lampung dijuluki gayu, di daerah Jawa Barat dijuluki jambu mede, di Jawa Tengah dan Jawa Timur diberi nama jambu monyet, di Bali jambu jipang atau jambu dwipa, dan di Sulawesi Utara disebut buah yaki (Warintek, 2010).
Tanaman jambu mete menghasilkan komoditas ekspor yang memiliki nilai jual yang cukup tinggi dan relatif stabil dibanding komoditas ekspor Indonesia lainnya. Selain gelondong dan kacang  mete tanaman tersebut menghasilkan pula minyak laka dan produk lain yang diolah dari buah semu. Arealnya bertambah  terus tiap tahun, sehingga akhir 2006 mencapai 595.111 ha. Organisme pengganggu tumbuhan terutama hama merupakan salah satu penyebab kematian dan mengakibatkan produktivitas serta mutu menjadi  rendah (Balitbang Pertanian, 2007).
Syarat  Tumbuh
Iklim
            Tanaman jambu mete sangat menyukai sinar matahari. Apabila tanaman jambu mete kekurangan  sinar matahari, maka produktivitasnya akan menurun atau tidak akan berbuah bila dinaungi tanaman lain. Suhu harian di sentra penghasil jambu mete minimun antara 15 25 0C dan maksimun antara 25 -35 0C. Tanaman ini akan tumbuh baik dan produktif bila ditanam pada suhu harian rata-rata 27 0C. Jambu mete paling cocok dibudidayakan di daerah-daerah dengan kelembaban nisbi antara 70 - 80%.  Akan tetapi tanaman jambu mete masih dapat bertoleransi pada tingkat kelembaban 60 - 70%. Angin kurang berperan dalam proses penyerbukan putik tanaman jambu mete. Dalam penyerbukan bunga jambu mete yang lebih berperan adalah serangga karena serbuk sari jambu mete pekat dan berbau sangat harum. Daerah yang paling sesuai untuk budi daya jambu mete ialah di daerah yang mempunyai jumlah curah hujan antara 1.000 - 2.000 mm / tahun dengan 4 - 6 bulan kering (<60 mm) (Warintek, 2010).
Tanah                                                                                                                          
Jenis tanah paling cocok untuk pertanaman jambu mete adalah tanah berpasir, tanah lempung berpasir dan tanah ringan berpasir. Jambu mete paling cocok ditanam pada tanah dengan pH antara 6,3 - 7,3 tetapi masih sesuai pada pH antara 5,5 - 6,3. Di Indonesia tanaman jambu mete dapat tumbuh di ketinggian tempat 1 - 1.200 mdpl.  Batas optimum ketinggian tempat hanya sampai 700 mdpl kecuali untuk tujuan rehabilitasi tanah kritis (Warintek, 2010).
Biologi  Hama
            Klasifikasi ilmiah dari Cricula trifenestrata Helf Menurut Karmawati (2008) yang dikenal dengan nama ulat kipat adalah :
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Arthropoda
Class                : Insecta
Ordo                : Lepidoptera
Family             : Bombycoidea
Genus              : Cricula
Species            : Cricula trifenestrata Helf

Pada mulanya C. trifenestrata Helf  dikenal sebagai hama karena sering terjadi peledakan populasi. Serangga ini dapat menyebabkan pengundulan pohon. Di Indonesia, pohon yang diserang serangga ini adalah pohon jambu mete, kedondong, apokat, kenari dan mangga. Pohon jambu mete (Anacardium occidentale L) tampaknya merupakan tanaman pakan utama serangga ini (Azrin, 1999).
Hama ini disebut juga ulat kipat atau ulat kenari. Ulat hama ini sangat rakus dan   bersifat   polifag. Ulat kecil memakan daun yang masih muda dari bagian bawah, secara bergerombol dan bekas serangan terlihat seperti sobekan - sobekan lebar tidak teratur pada pinggiran daun. Serangan yang  lebih  besar  dapat  menghabiskan  seluruh  helainya,  tinggal  tulang  daun  saja.  Bila populasi ulat tinggi, seluruh daun dalam areal yang luas akan gundul tinggal ranting -ranting saja (Deptan, 1995).
Telur
Berkulit licin dan berwarna putih kekuningan, berbentuk bulat lonjong dengan panjang 1 –  1,20 mm dan lebar 0,90 – 1 mm. Pada malam hari serangga betina  yang sudah kawin terbang menuju tanaman inangnya (jambu mete) dan bertelur didaun – daun tanaman tersebut. Telur  diletakkan dibawah daun secara berkelompok dengan jumlah antara 200 – 368 butir. Telur menetas menjadi larva pada umur 6 – 7 hari (Deptan, 1995).
Telur diletakkan teratur dan rapi pada pinggiran daun sebelah bawah atau pada tangkai daun  jumlah besar. Telur muda berwarna putih kekuningkuningan,  yang kemudian berwarna kelabu. Bentuknya bulat agak oval / gepeng dan memiliki bintik hitam disalah satu ujungnya (Deptan, 2001).                                                                                                                                                  Larva
            Terdiri  dari 5 instar dengan pergantian kulit sampai empat  kali. Perubahan larva  dari instar 1 sampai ke  instar  5 masing  –  masing membutuhkan waktu  5  hari. Pada larva  instar  1 berwarna kuning dengan kepala hitam panjang 2,70 –  3 mm dan memiliki lebar 0,20  –  0,40 mm. Pada larva instar 2  berwarna kuning dengan kepala cokelat, tubuhnya ditumbuhi  bulu – bulu halus, panjangnya 5,30 – 5,70 mm, dan lebar 0,70 – 0,90 mm. Instar 3 berwarna kuning kemerahan  dengan kepala cokelat, tubuhnya ditumbuhi bulu – bulu halus berwarna putih  agak kasar dan terdapat garis hitam melingkar mulai dari kepala sampai abdomen, panjangnya 16,10 – 17 mm dan lebar 2 – 2,20 mm. Instar 5 berwarna merah dengan kepala merah, tubuhnya ditutupi dengan bulu – bulu berwarna  putih agak kasar dan terdapat garis hitam melingkar dari kepala sampai abdomen,  panjangnya 23 – 27 mm dan lebar  4,5 – 6 mm. Dari instar 5 sampai menjadi pra pupa membutukan waktu 8 – 9 hari, pra pupa tinggal didalam kokon sampai menjadi pupa.  Pupasi ini berlangsung 3 – 5 hari (Rojak, 2001).
Pupa
            Berwarna cokelat kemerahan berbentuk bulat lonjong,  panjangnya  19 – 11 mm. Umur tetas pupa sampai menjadi serangga dewasa sekitar  13 – 15 hari (Rojak, 2001).
Imago
Serangga dewasa  C. trifenestrata Helf  berwarna kuning tua. Ditengah sayapnya terdapat garis berwarna hitam. Panjang antena serangga jantan dan betina  hampir sama, sekitar  6  – 7,10 mm. Bentuk abdomen serangga betina lebih besar dan lebih panjang dari serangga jantan panjang serangga betina 14 – 16 mm dan lebar 7 – 9 mm, sedangkan panjang serangga jantan  12 – 14 mm dan lebar 5 – 6 mm. Ujung abdomen ditumbuhi bulu – bulu halus berwarna kuning tua. Rentangan sayap serangga betina  berkisar antara 55 – 65 mm dan serangga jantan berkisar antara 51 – 59 mm (Rojak, 2001).                                                                                                                                              Gejala Serangan
            C. trifenestrata Helf menyerang tanaman jambu mete pada fase larva instar 1 dan memakan daun mulai dari pinggir daun, apabila daun habis maka akan pindah kedaun berikutnya. Kehidupan berkelompok  larva tersebut bertahan sampai menjadi pupa. Larva instar 4 sampai instar 5 adalah yang paling  rakus memakan daun jambu mete, sehingga mengakibatkan tanaman menjadi gundul total. Ulat kecil memakan daun yang masih muda dari bagian bawah, secara bergerombol dan bekas serangan terlihat seperti sobekan-sobekan tidak teratur pada pinggiran daun. Serangan ulat yang lebih besar dapat menghabiskan seluruh helainya, tinggal tulang daun saja. Bila populasi ulat tinggi, seluruh daun dalam areal yang luas akan gundul, tinggal ranting-ranting saja (Deptan, 1995).
Faktor Yang Mempengaruhi
            Karakteristik hidup Cricula trifenestrata Helf  berasal dari ulat cricula. Dimasa lalu dianggap sebagai hama pada tanaman inangnya, buah buahan tropis berupa mete, kenari, alpukat, mangga, rambutan, kayu manis. Dulu ulat ulat ini dibasmi menggunakan pestisida. Asumsi ulat lipat sebagai hama disebabkan sifat ulat yang suka berkoloni. Masa penetasan telur menjadi ulat saatnya bersamaan dan terus menerus bergerombol hingga berubah wujud menjadi kepompong. Pada masa puncak tetas ulat semua daun habis dimakan ulat. Seluruh permukaan pohon tertutup ulat bahkan sampai turun ke pohon pohon lain yang lebih rendah mencari tempat untuk membuat kokon. Kepompong cricula biasa ditemukan saling berlekatan hingga puluhan biji menggantung dipohon inang, pohon dan semak perdu di sekitarnya (Karmawati, 2008).
Pengendalian
            Dalam pertanian organik yang tidak menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya melainkan dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan biasanya dilakukan secara terpadu sejak awal pertanaman untuk menghindari serangan hama dan penyakit tersebut yang dikenal dengan PHT (Pengendalian Hama Terpadu) yang komponennya adalah :
1.      Mengusahakan pertumbuhan tanaman yang sehat
2.   Memanfaatkan semaksimal mungkin musuh-musuh alami seperti : Lalat tachinid, tawon kertas, semut rangrang, berbagai  macam  laba – laba, belalang sembah dan beberapa jenis tawon ichneumon.
3.      Menggunakan varietas - varietas unggul yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit.
4.      Menggunakan pengendalian fisik / mekanik yaitu dengan tenaga manusia.
5.    Penggunaan pestisida, insektisida, herbisida alami yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan residu toksik baik pada bahan tanaman yang dipanen  maupun pada tanah. Disamping itu penggunaan bahan ini hanya dalam keadaan darurat berdasarkan aras kerusakan ekonomi yang diperoleh dari hasil pengamatan (Iptek, 2010).
PERMASALAHAN
            C. trifenestrata Helf dianggap sebagai hama karena populasinya yang meningkat dan berkoloni pada pohon jambu mete yang mempengaruhi produksi jambu mete. Jambu mete (Anarcadium occidentale L) merupakan komoditas potensial dan berpeluang untuk mengisi pangsa pasar dunia. Dalam luas areal Indonesia merupakan yang terluas didunia 591.475 ha, namun dalam produksi hasil gelondong mente masih rendah dikarenakan adanya serangan hama yang mempengaruhi hasil produksi (Balitbag Pertanian, 2007).
 Pengendalian secara biologi sudah sering dilakukan, tetapi pengendalian ini tidak berpengaruh besar terhadap pemusnahan C. trifenestrata Helf. Sedangkan untuk perlakuan secara mekanis belum banyak dilakukan, untuk pengendalian secara kimiawi dengan penggunaan insektisida paling sering dipraktekkan, meskipun pengendalian sering dilakukan, tetapi populasi ini  tidak pernah menurun, hal ini disebabkan karena tidak meratanya pengendalian. Pengendalian hanya dilakukan terhadap tanaman inang yang ada diperkebunan saja, sedangkan tanaman inang lainnya  yang ada diluar perkebunan tidak pernah dikendalikan, akibatnya serangan hama ini selalu terjadi setiap tahun  (Rojak, 2001).
PEMBAHASAN
C. trifenestrata Helf menyerang tanaman jambu mete dengan memakan daun mulai dari pinggir daun, apabila daun habis maka akan pindah kedaun berikutnya. Hama ini hidup dengan berkoloni didaun – daun jambu mete, dan akan merusak pohon jambu mete pada saat perkembangannya dimulai dari tahap instar 1. Ulat kecil memakan daun yang masih muda dari bagian bawah, secara bergerombol dan bekas serangan terlihat seperti sobekan - sobekan lebar tidak teratur pada pinggiran daun.
Serangan yang  lebih  besar  dapat  menghabiskan  seluruh  helainya,  tinggal  tulang  daun  saja.  Bila populasi ulat tinggi, seluruh daun dalam areal yang luas akan gundul tinggal ranting -ranting saja, hal ini dapat merugikan petani karena tidak adanya hasil produksi buah yang akan didapat.
Pengendalian dari hama ini sendiri sudah sering dilakukan namun sesuai dengan Pernyataan Rojak (2010) populasi ini  tidak pernah menurun, hal ini disebabkan karena tidak meratanya pengendalian. Pengendalian hanya dilakukan terhadap tanaman inang yang ada diperkebunan saja, sedangkan tanaman inang lainnya  yang ada diluar perkebunan tidak pernah dikendalikan, akibatnya serangan hama ini selalu terjadi setiap tahun.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
  1.  Cricula trifenestrata Helf  adalah hama utama yang menyerang daun  pohon jambu mete (Anacardium occidentale  L).
   2.  Hama Cricula trifenestrata Helf  disebut juga ulat kipat atau ulat kenari. Ulat hama ini sangat rakus dan bersifat polifag.
   3. C. trifenestrata Helf  menyerang tanaman jambu mete  pada fase  larva instar 1 dan memakan daun mulai dari pinggir daun, apabila daun habis maka akan pindah kedaun berikutnya. Kehidupan berkelompok  larva tersebut bertahan sampai menjadi pupa.
    4. Pengendalian hama Cricula trifenestrata Helf dilakukan dengan menggunakan musuh – musuh alami seperti : Lalat tachinid, tawon kertas, semut rangrang, berbagai  macam  laba – laba, belalang sembah dan beberapa jenis tawon ichneumon.
    5. Selain bersifat hama, kokon dari Cricula trifenestrata Helf  dapat dipintal menjadi benang seperti kokon dari ulat Attacus atlas Linn dan dijual keluar negeri dengan harga yang sangat mahal.
Saran
            Dalam pemusnahaan hama Cricula trifenestrata Helf sebaiknya dilakukan secara merata baik yang ada diperkebunan maupun yang ada diluar areal perkebunan, agar tidak tertinggal telur / hama – hama yang resisten dengan lingkungannya.
DAFTAR  PUSTAKA
Balai Penelitian Dan Pengembangan Pertanian. 2007. Teknologi Unggulan Jambu Mete Perbenihan Dan Budidaya Pendukung Varietas Unggul. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Perkebunan. Bogor.

Departemen Pertanian. 1995. Pengenalan Dan Identifikasi Hama Penyakit Tanaman Jambu Mete.

Departemen Pertanian. 2001. Musuh Alami, Hama Dan Penyakit Tanaman Jambu Mete. Proyek Pengendalian Hama Terpadu Perkebunan Rakyat : Jakarta.

Hill, Denis S. 1979. Agricultural Insect Pest of the Tropics and Their Control. Cambridge University Press. London.
           
http://www.warintek.ristek.go.id. 2010. Jambu  Mete (Anacardium occidentale L). Diunduh pada tanggal 10 Maret 2011.

http://www.iptek.net.id. 2010. Pengendalian Hama Dan Penyakit. Diunduh pada tanggal 10 Maret 2011.

Karmawati, Elna. 2008. Perkembangan Jambu Mete Dan Strategi Pengendalian Hama Utamanya. Pusat Penelitian Dan Pengembangan  Perkebunan. Indonesian Center Of Estate Crops Research And Development. Bogor.

Prihatin, Jeki dan Jesmondt Situmorang. 2001. Pakan Buatan Menggunakan Daun Jambu Mete Untuk Ulat Sutera Emas Cricula trifenestrata Helf (Lepidoptera : Saturniidae). Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta.

Rojak, Abdul. 2001. Teknik Pengamatan Kemampuan Makan Hama Cricula trifenestrata Helf Pada daun Jambu Mete. Buletin Teknik Pertanian Vol 7. Nomor I.

Susniahti, Nenet dkk. 2005. Bahan Ajar Ilmu Hama Tumbuhan. Universitas        
            Padjajaran. Bandung.