PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tumbuhan tidak selamanya bisa hidup tanpa gangguan. Kadang tumbuhan mengalami gangguan oleh binatang atau organisme kecil (virus, bakteri, atau jamur). Hewan dapat disebut hama karena mereka mengganggu tumbuhan dengan memakannya. Belalang, kumbang, ulat, wereng, tikus, dan walang sangit merupakan beberapa contoh binatang yang sering menjadi hama tanaman (Susniahti dkk, 2005).
Hama adalah semua organisme atau agen biotik yang merusak tanaman dengan cara yang bertentangan dengan kepentingan manusia. Dalam arti yang luas bahwa hama adalah makhluk hidup yang mengurangi kualitas dan kuantitas beberapa sumber daya manusia yang berupa tanaman atau binatang yang dipelihara yang hasil dan seratnya dapat diambil untuk kepentingan manusia (Hill, 1979).
Manusia selalu menemui, berbagai kendala untuk bisa melindungi dini dari gangguan serangga. Manusia tidak pernah dapat mengalakannya. Serangga merupakan musuh yang serius selama hidup tanpa pernah manusia menyadarinya. Manusia yang akan menciptakan semua keinginannya perlu dipikirkan adanya mahluk perusak khususnya serangga dan mahluk hidup lainnya, yang akan menjadi rival beratnya dalam usaha memenuhi keinginan tersebut. Salah satu hama yang mengganggu tanaman adalah cricula fenestrata atau yang dikenal dengan nama ulat kipat yang umumnya menyerang pohon jambu mete dan alpukat (Sushniati dkk, 2005).
Sebagian besar jenis serangga dan semua jenis laba-laba di kebun jambu mete bermanfaat. Mengapa, karena dapat membunuh dan memakan hama, juga ada fungsi lain yang berguna, misalnya mengurai daun yang jatuh sehingga menjadi unsur hara. Karena itu, semua serangga / laba-laba yang berguna untuk manusia sebaiknya dilestarikan. Cara paling baik untuk melestarikannya, jangan menggunakan pestisida (racun kimia) bila belum diperlukan dan mengusahakan lingkungan hidupnya yang paling cocok/ konservasi (Deptan, 2001).
Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui teknik pengendalian dan perlindungan tanaman Jambu Mete (Anacardium occidentale L) dari hama ulat kipat Cricula trifenestrata Helf.
Kegunaan Penulisan
1. Sebagai syarat untuk mengukuti praktikal test di Laboratorium Dasar Perlindungan Hutan Sub-Hama Departemen Hama Dan Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan.
2. Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.
TINJAUAN PUSTAKA
Biologi Tanaman
Klasifikasi dari Jambu mete (Anacardium occidentale L) menurut Plantamor (2010) :
Kingdom :Plantae
Divisi :Magnoliophyta
Kelas :Magnoliopsida
Ordo :Sapindales
Famili :Anacardiaceae
Genus :Anacardium
Spesies :Anacardium occidentale L
Jambu mete merupakan tanaman buah berupa pohon yang berasal dari Brasil Tenggara. Tanaman ini dibawa oleh pelaut Portugis ke India 425 tahun yang lalu, kemudian menyebar ke daerah tropis dan subtropis lainnya seperti Bahana, Senegal, Kenya, Madagaskar, Mozambik, Srilangka, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Di antara sekian banyak negara produsen, Brasil, Kenya, dan India merupakan negara pemasok utama jambu mete dunia. Jambu mete tersebar di seluruh Nusantara dengan nama berbeda - beda. Di Sumatera Barat disebut jambu erang / jambu monyet, di Lampung dijuluki gayu, di daerah Jawa Barat dijuluki jambu mede, di Jawa Tengah dan Jawa Timur diberi nama jambu monyet, di Bali jambu jipang atau jambu dwipa, dan di Sulawesi Utara disebut buah yaki (Warintek, 2010).
Tanaman jambu mete menghasilkan komoditas ekspor yang memiliki nilai jual yang cukup tinggi dan relatif stabil dibanding komoditas ekspor Indonesia lainnya. Selain gelondong dan kacang mete tanaman tersebut menghasilkan pula minyak laka dan produk lain yang diolah dari buah semu. Arealnya bertambah terus tiap tahun, sehingga akhir 2006 mencapai 595.111 ha. Organisme pengganggu tumbuhan terutama hama merupakan salah satu penyebab kematian dan mengakibatkan produktivitas serta mutu menjadi rendah (Balitbang Pertanian, 2007).
Syarat Tumbuh
Iklim
Tanaman jambu mete sangat menyukai sinar matahari. Apabila tanaman jambu mete kekurangan sinar matahari, maka produktivitasnya akan menurun atau tidak akan berbuah bila dinaungi tanaman lain. Suhu harian di sentra penghasil jambu mete minimun antara 15 – 25 0C dan maksimun antara 25 -35 0C. Tanaman ini akan tumbuh baik dan produktif bila ditanam pada suhu harian rata-rata 27 0C. Jambu mete paling cocok dibudidayakan di daerah-daerah dengan kelembaban nisbi antara 70 - 80%. Akan tetapi tanaman jambu mete masih dapat bertoleransi pada tingkat kelembaban 60 - 70%. Angin kurang berperan dalam proses penyerbukan putik tanaman jambu mete. Dalam penyerbukan bunga jambu mete yang lebih berperan adalah serangga karena serbuk sari jambu mete pekat dan berbau sangat harum. Daerah yang paling sesuai untuk budi daya jambu mete ialah di daerah yang mempunyai jumlah curah hujan antara 1.000 - 2.000 mm / tahun dengan 4 - 6 bulan kering (<60 mm) (Warintek, 2010).
Tanah
Jenis tanah paling cocok untuk pertanaman jambu mete adalah tanah berpasir, tanah lempung berpasir dan tanah ringan berpasir. Jambu mete paling cocok ditanam pada tanah dengan pH antara 6,3 - 7,3 tetapi masih sesuai pada pH antara 5,5 - 6,3. Di Indonesia tanaman jambu mete dapat tumbuh di ketinggian tempat 1 - 1.200 mdpl. Batas optimum ketinggian tempat hanya sampai 700 mdpl kecuali untuk tujuan rehabilitasi tanah kritis (Warintek, 2010).
Biologi Hama
Klasifikasi ilmiah dari Cricula trifenestrata Helf Menurut Karmawati (2008) yang dikenal dengan nama ulat kipat adalah :
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Ordo : Lepidoptera
Family : Bombycoidea
Genus : Cricula
Species : Cricula trifenestrata Helf
Pada mulanya C. trifenestrata Helf dikenal sebagai hama karena sering terjadi peledakan populasi. Serangga ini dapat menyebabkan pengundulan pohon. Di Indonesia, pohon yang diserang serangga ini adalah pohon jambu mete, kedondong, apokat, kenari dan mangga. Pohon jambu mete (Anacardium occidentale L) tampaknya merupakan tanaman pakan utama serangga ini (Azrin, 1999).
Hama ini disebut juga ulat kipat atau ulat kenari. Ulat hama ini sangat rakus dan bersifat polifag. Ulat kecil memakan daun yang masih muda dari bagian bawah, secara bergerombol dan bekas serangan terlihat seperti sobekan - sobekan lebar tidak teratur pada pinggiran daun. Serangan yang lebih besar dapat menghabiskan seluruh helainya, tinggal tulang daun saja. Bila populasi ulat tinggi, seluruh daun dalam areal yang luas akan gundul tinggal ranting -ranting saja (Deptan, 1995).
Telur
Berkulit licin dan berwarna putih kekuningan, berbentuk bulat lonjong dengan panjang 1 – 1,20 mm dan lebar 0,90 – 1 mm. Pada malam hari serangga betina yang sudah kawin terbang menuju tanaman inangnya (jambu mete) dan bertelur didaun – daun tanaman tersebut. Telur diletakkan dibawah daun secara berkelompok dengan jumlah antara 200 – 368 butir. Telur menetas menjadi larva pada umur 6 – 7 hari (Deptan, 1995).
Telur diletakkan teratur dan rapi pada pinggiran daun sebelah bawah atau pada tangkai daun jumlah besar. Telur muda berwarna putih kekuningkuningan, yang kemudian berwarna kelabu. Bentuknya bulat agak oval / gepeng dan memiliki bintik hitam disalah satu ujungnya (Deptan, 2001). Larva
Terdiri dari 5 instar dengan pergantian kulit sampai empat kali. Perubahan larva dari instar 1 sampai ke instar 5 masing – masing membutuhkan waktu 5 hari. Pada larva instar 1 berwarna kuning dengan kepala hitam panjang 2,70 – 3 mm dan memiliki lebar 0,20 – 0,40 mm. Pada larva instar 2 berwarna kuning dengan kepala cokelat, tubuhnya ditumbuhi bulu – bulu halus, panjangnya 5,30 – 5,70 mm, dan lebar 0,70 – 0,90 mm. Instar 3 berwarna kuning kemerahan dengan kepala cokelat, tubuhnya ditumbuhi bulu – bulu halus berwarna putih agak kasar dan terdapat garis hitam melingkar mulai dari kepala sampai abdomen, panjangnya 16,10 – 17 mm dan lebar 2 – 2,20 mm. Instar 5 berwarna merah dengan kepala merah, tubuhnya ditutupi dengan bulu – bulu berwarna putih agak kasar dan terdapat garis hitam melingkar dari kepala sampai abdomen, panjangnya 23 – 27 mm dan lebar 4,5 – 6 mm. Dari instar 5 sampai menjadi pra pupa membutukan waktu 8 – 9 hari, pra pupa tinggal didalam kokon sampai menjadi pupa. Pupasi ini berlangsung 3 – 5 hari (Rojak, 2001).
Pupa
Berwarna cokelat kemerahan berbentuk bulat lonjong, panjangnya 19 – 11 mm. Umur tetas pupa sampai menjadi serangga dewasa sekitar 13 – 15 hari (Rojak, 2001).
Imago
Serangga dewasa C. trifenestrata Helf berwarna kuning tua. Ditengah sayapnya terdapat garis berwarna hitam. Panjang antena serangga jantan dan betina hampir sama, sekitar 6 – 7,10 mm. Bentuk abdomen serangga betina lebih besar dan lebih panjang dari serangga jantan panjang serangga betina 14 – 16 mm dan lebar 7 – 9 mm, sedangkan panjang serangga jantan 12 – 14 mm dan lebar 5 – 6 mm. Ujung abdomen ditumbuhi bulu – bulu halus berwarna kuning tua. Rentangan sayap serangga betina berkisar antara 55 – 65 mm dan serangga jantan berkisar antara 51 – 59 mm (Rojak, 2001). Gejala Serangan
C. trifenestrata Helf menyerang tanaman jambu mete pada fase larva instar 1 dan memakan daun mulai dari pinggir daun, apabila daun habis maka akan pindah kedaun berikutnya. Kehidupan berkelompok larva tersebut bertahan sampai menjadi pupa. Larva instar 4 sampai instar 5 adalah yang paling rakus memakan daun jambu mete, sehingga mengakibatkan tanaman menjadi gundul total. Ulat kecil memakan daun yang masih muda dari bagian bawah, secara bergerombol dan bekas serangan terlihat seperti sobekan-sobekan tidak teratur pada pinggiran daun. Serangan ulat yang lebih besar dapat menghabiskan seluruh helainya, tinggal tulang daun saja. Bila populasi ulat tinggi, seluruh daun dalam areal yang luas akan gundul, tinggal ranting-ranting saja (Deptan, 1995).
Faktor Yang Mempengaruhi
Karakteristik hidup Cricula trifenestrata Helf berasal dari ulat cricula. Dimasa lalu dianggap sebagai hama pada tanaman inangnya, buah buahan tropis berupa mete, kenari, alpukat, mangga, rambutan, kayu manis. Dulu ulat ulat ini dibasmi menggunakan pestisida. Asumsi ulat lipat sebagai hama disebabkan sifat ulat yang suka berkoloni. Masa penetasan telur menjadi ulat saatnya bersamaan dan terus menerus bergerombol hingga berubah wujud menjadi kepompong. Pada masa puncak tetas ulat semua daun habis dimakan ulat. Seluruh permukaan pohon tertutup ulat bahkan sampai turun ke pohon pohon lain yang lebih rendah mencari tempat untuk membuat kokon. Kepompong cricula biasa ditemukan saling berlekatan hingga puluhan biji menggantung dipohon inang, pohon dan semak perdu di sekitarnya (Karmawati, 2008).
Pengendalian
Dalam pertanian organik yang tidak menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya melainkan dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan biasanya dilakukan secara terpadu sejak awal pertanaman untuk menghindari serangan hama dan penyakit tersebut yang dikenal dengan PHT (Pengendalian Hama Terpadu) yang komponennya adalah :
1. Mengusahakan pertumbuhan tanaman yang sehat
2. Memanfaatkan semaksimal mungkin musuh-musuh alami seperti : Lalat tachinid, tawon kertas, semut rangrang, berbagai macam laba – laba, belalang sembah dan beberapa jenis tawon ichneumon.
3. Menggunakan varietas - varietas unggul yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit.
4. Menggunakan pengendalian fisik / mekanik yaitu dengan tenaga manusia.
5. Penggunaan pestisida, insektisida, herbisida alami yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan residu toksik baik pada bahan tanaman yang dipanen maupun pada tanah. Disamping itu penggunaan bahan ini hanya dalam keadaan darurat berdasarkan aras kerusakan ekonomi yang diperoleh dari hasil pengamatan (Iptek, 2010).
PERMASALAHAN
C. trifenestrata Helf dianggap sebagai hama karena populasinya yang meningkat dan berkoloni pada pohon jambu mete yang mempengaruhi produksi jambu mete. Jambu mete (Anarcadium occidentale L) merupakan komoditas potensial dan berpeluang untuk mengisi pangsa pasar dunia. Dalam luas areal Indonesia merupakan yang terluas didunia 591.475 ha, namun dalam produksi hasil gelondong mente masih rendah dikarenakan adanya serangan hama yang mempengaruhi hasil produksi (Balitbag Pertanian, 2007).
Pengendalian secara biologi sudah sering dilakukan, tetapi pengendalian ini tidak berpengaruh besar terhadap pemusnahan C. trifenestrata Helf. Sedangkan untuk perlakuan secara mekanis belum banyak dilakukan, untuk pengendalian secara kimiawi dengan penggunaan insektisida paling sering dipraktekkan, meskipun pengendalian sering dilakukan, tetapi populasi ini tidak pernah menurun, hal ini disebabkan karena tidak meratanya pengendalian. Pengendalian hanya dilakukan terhadap tanaman inang yang ada diperkebunan saja, sedangkan tanaman inang lainnya yang ada diluar perkebunan tidak pernah dikendalikan, akibatnya serangan hama ini selalu terjadi setiap tahun (Rojak, 2001).
PEMBAHASAN
C. trifenestrata Helf menyerang tanaman jambu mete dengan memakan daun mulai dari pinggir daun, apabila daun habis maka akan pindah kedaun berikutnya. Hama ini hidup dengan berkoloni didaun – daun jambu mete, dan akan merusak pohon jambu mete pada saat perkembangannya dimulai dari tahap instar 1. Ulat kecil memakan daun yang masih muda dari bagian bawah, secara bergerombol dan bekas serangan terlihat seperti sobekan - sobekan lebar tidak teratur pada pinggiran daun.
Serangan yang lebih besar dapat menghabiskan seluruh helainya, tinggal tulang daun saja. Bila populasi ulat tinggi, seluruh daun dalam areal yang luas akan gundul tinggal ranting -ranting saja, hal ini dapat merugikan petani karena tidak adanya hasil produksi buah yang akan didapat.
Pengendalian dari hama ini sendiri sudah sering dilakukan namun sesuai dengan Pernyataan Rojak (2010) populasi ini tidak pernah menurun, hal ini disebabkan karena tidak meratanya pengendalian. Pengendalian hanya dilakukan terhadap tanaman inang yang ada diperkebunan saja, sedangkan tanaman inang lainnya yang ada diluar perkebunan tidak pernah dikendalikan, akibatnya serangan hama ini selalu terjadi setiap tahun.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Cricula trifenestrata Helf adalah hama utama yang menyerang daun pohon jambu mete (Anacardium occidentale L).
2. Hama Cricula trifenestrata Helf disebut juga ulat kipat atau ulat kenari. Ulat hama ini sangat rakus dan bersifat polifag.
3. C. trifenestrata Helf menyerang tanaman jambu mete pada fase larva instar 1 dan memakan daun mulai dari pinggir daun, apabila daun habis maka akan pindah kedaun berikutnya. Kehidupan berkelompok larva tersebut bertahan sampai menjadi pupa.
4. Pengendalian hama Cricula trifenestrata Helf dilakukan dengan menggunakan musuh – musuh alami seperti : Lalat tachinid, tawon kertas, semut rangrang, berbagai macam laba – laba, belalang sembah dan beberapa jenis tawon ichneumon.
5. Selain bersifat hama, kokon dari Cricula trifenestrata Helf dapat dipintal menjadi benang seperti kokon dari ulat Attacus atlas Linn dan dijual keluar negeri dengan harga yang sangat mahal.
Saran
Dalam pemusnahaan hama Cricula trifenestrata Helf sebaiknya dilakukan secara merata baik yang ada diperkebunan maupun yang ada diluar areal perkebunan, agar tidak tertinggal telur / hama – hama yang resisten dengan lingkungannya.
DAFTAR PUSTAKA
Balai Penelitian Dan Pengembangan Pertanian. 2007. Teknologi Unggulan Jambu Mete Perbenihan Dan Budidaya Pendukung Varietas Unggul. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Perkebunan. Bogor.
Departemen Pertanian. 1995. Pengenalan Dan Identifikasi Hama Penyakit Tanaman Jambu Mete.
Departemen Pertanian. 2001. Musuh Alami, Hama Dan Penyakit Tanaman Jambu Mete. Proyek Pengendalian Hama Terpadu Perkebunan Rakyat : Jakarta.
Hill, Denis S. 1979. Agricultural Insect Pest of the Tropics and Their Control. Cambridge University Press. London.
http://www.warintek.ristek.go.id. 2010. Jambu Mete (Anacardium occidentale L). Diunduh pada tanggal 10 Maret 2011.
http://www.iptek.net.id. 2010. Pengendalian Hama Dan Penyakit. Diunduh pada tanggal 10 Maret 2011.
Karmawati, Elna. 2008. Perkembangan Jambu Mete Dan Strategi Pengendalian Hama Utamanya. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Perkebunan. Indonesian Center Of Estate Crops Research And Development. Bogor.
Prihatin, Jeki dan Jesmondt Situmorang. 2001. Pakan Buatan Menggunakan Daun Jambu Mete Untuk Ulat Sutera Emas Cricula trifenestrata Helf (Lepidoptera : Saturniidae). Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta.
Rojak, Abdul. 2001. Teknik Pengamatan Kemampuan Makan Hama Cricula trifenestrata Helf Pada daun Jambu Mete. Buletin Teknik Pertanian Vol 7. Nomor I.
Susniahti, Nenet dkk. 2005. Bahan Ajar Ilmu Hama Tumbuhan. Universitas
Padjajaran. Bandung.